Zahid Al Muhasibi

Digital Product Research & Design

LinkedIn

Dark Mode

Zahid Al Muhasibi

Digital Product Research & Design

Dark Mode
Dark Mode

Collected Along the Way

A collection of research notes, workshop materials, useful resources, and product-related explorations.

A Collection of Things I Learned, Built, and Shared

A growing collection of research, presentations, resources, and ideas gathered throughout my product design journey.

A collection of research notes, workshop materials, useful resources, and product-related explorations.

Products Built Around Real Operations

Exploring how research, systems thinking, and usability come together in complex digital products.

Kenapa Pasar Tradisional Belum Tergantikan?

Minggu lalu aku sempet nemenin istriku belanja bulanan ke pasar.

Udah lama banget rasanya aku ga ke pasar. Biasanya kalau butuh sesuatu ya tinggal mampir ke supermarket, atau bahkan pesan lewat aplikasi.

Karena biasanya, semua jadi:

  • Lebih cepat.

  • Lebih bersih.

  • Lebih praktis.

At least, that's what I thought.

Pasar Tradisional

Awalnya sih cuma ngikut aja, lama-lama juga sedikit terlibat, sesekali dengerin percakapan antara pedagang dan konsumen, terus juga bantuin megang belanjaan istri, dan sempet bingung juga kenapa orang-orang harus muter sana sini dulu sebelum mutusin beli di satu lapak.

Lalu aku coba buat merhatiin sekitaran pasar, banyak transaksi, obrolan dan hal-hal yang kalau kita pikirin cukup kompleks.

  • Ada yang beli cabai tapi harus nanya dulu harganya berapa.

  • Ada yang beli cabai tanpa nanya harga.

  • Ada yang gatau mau beli apa.

  • Ada juga yang udah tau mau beli apa.

Dan gatau kenapa, semuanya terasa natural.

Ga dibuat-buat.
Ga ada SOP.
Ga ada script.

Di situ aku tiba-tiba kepikiran sesuatu.

Kalau supermarket lebih nyaman, lebih bersih, harganya jelas, bahkan sekarang kita bisa belanja tanpa keluar rumah, kenapa pasar tradisional masih tetap ramai?

Kalau dipikir-pikir, secara logika pasar harusnya udah kalah.

  • Ga ada AC.

  • Kadang becek.

  • Parkir susah.

  • Harus muter-muter.

  • Harus nanya harga.

  • Kadang masih tawar-menawar.

Kalau ukurannya cuma efficiency, supermarket menang hampir di semua aspek.

Bukan cuma bertahan, tapi tetep hidup, ramai, dan yang datang juga bukan cuma orang tua. Banyak juga anak muda.

Why?

Awalnya aku kira jawabannya sederhana.

Karena lebih murah.

Tapi setelah memperhatikan lebih lama, kayaknya bukan itu alasan utamanya.


Yang dijual ternyata bukan cuma barang.

Aku baru sadar kalau pedagang itu sebenarnya bukan cuma penjual. Mereka juga semacam recommendation engine.

Bedanya...

mereka ga pakai AI.

Mereka pakai pengalaman, mereka tahu ikan mana yang baru datang tahu cabai mana yang lebih pedas, tahu sayur mana yang sebaiknya jangan dibeli hari itu.

Bahkan kadang mereka bilang,

"Besok aja, Pak. Besok lebih bagus barangnya."

Coba bayangin.

Berapa banyak e-commerce yang akan menyuruh konsumennya jangan beli hari ini?


Lalu ada negosiasi.

Di supermarket, harga itu final. Di pasar, harga justru jadi bagian dari percakapan.

Kadang bukan soal dapat harga paling murah.

  • Tapi soal interaksi.

  • Soal hubungan.

  • Soal saling mengenal.

Dan ternyata, itu bukan kelemahan sistemnya.

Justru memang begitu cara sistemnya bekerja.


Ada satu hal lagi yang menurut aku juga menarik.

Pedagang sering kali lebih tahu kebutuhan pembelinya dibanding pembeli itu sendiri.

Misalnya,

"Kalau buat rendang jangan yang ini, Bu."

atau

"Yang ini manis, cocok buat jus."

Kalimat-kalimat sederhana seperti itu mungkin cuma berlangsung beberapa detik. Tapi buat pembeli, itu mengurangi keraguan.

Setelah dipahami, menurut aku itulah salah satu bentuk user experience paling sederhana.


Sebagai Product Designer

Aku jadi kepikiran sesuatu. Di pekerjaanku, aku sering diminta membuat sesuatu menjadi lebih sederhana: lebih cepat, lebih seamless, lebih sedikit klik, dan lebih minim friction. Dan itu memang tujuan yang baik. Tapi pagi itu aku sadar kalau setiap friction ternyata pernah punya alasan untuk ada. Misalnya tawar-menawar. Kalau dilihat sekilas, proses itu memang memperlambat transaksi, tapi di baliknya ada beberapa hal penting yang sering tidak terlihat, seperti:

  • ruang untuk membangun hubungan,

  • ruang untuk memahami kebutuhan pembeli,

  • ruang untuk memberi rekomendasi,

  • ruang untuk saling percaya.

Kalau proses itu dihilangkan, transaksinya memang jadi lebih cepat. Tapi mungkin ada sesuatu yang ikut hilang tanpa kita sadari.


That's where system thinking comes in.

Kadang kita terlalu fokus mengoptimalkan apa yang terlihat.

Checkout lebih cepat.
Pembayaran lebih mudah.
Pengiriman lebih instan.

Semuanya terdengar seperti improvement. Tapi setiap sistem lama biasanya punya fungsi-fungsi kecil yang bekerja diam-diam, dan fungsi itu belum tentu langsung terlihat ketika sistem baru datang.

  • Ada ruang untuk percakapan.

  • Ada kebiasaan yang membangun kepercayaan.

  • Ada fleksibilitas yang membuat orang merasa dipahami.

Karena yang berubah bukan cuma prosesnya, tapi juga cara manusia berinteraksi.


Aku jadi teringat satu hal.

Waktu menulis artikel tentang parkir gratis, aku belajar bahwa setiap sistem punya fungsi yang sering kali tidak terlihat. Pasar tradisional mengingatkanku pada hal yang sama.

Yang sulit digantikan ternyata bukan:

  • bangunannya,

  • lapaknya,

  • atau cara jual-belinya.

Yang sulit digantikan adalah:

hubungan
kepercayaan
pengetahuan
fleksibilitas

Hal-hal kecil yang bekerja diam-diam, tapi justru membuat sistem itu tetap hidup.

Aku pulang hari itu membawa beberapa kantong belanja. Tapi rasanya aku juga pulang membawa satu pelajaran.


Yang Tak Tergantikan dari Pasar Tradisional

Aku pulang hari itu membawa beberapa kantong belanja, tapi rasanya aku juga pulang membawa satu pelajaran.

Sebagai designer, kita sering bertanya, "Bagaimana caranya supaya ini lebih cepat?"

Mungkin sesekali kita juga perlu bertanya, "Apa yang akan hilang kalau ini dibuat lebih cepat?"

Karena mungkin itu juga jawaban kenapa pasar tradisional belum tergantikan.

  • Bukan karena ia paling efisien.

  • Bukan karena ia paling rapi.

Tapi karena di sana ada hubungan, kepercayaan, dan rasa saling mengenal yang sulit digantikan oleh sistem apa pun.

The best systems aren't always the fastest.
Sometimes, they're simply the ones that understand humans a little better.

Parkir Gratis, Tapi Apa yang Sebenarnya Tidak Kita Perbaiki?

Beberapa waktu terakhir, pemerintah daerah Pekanbaru mulai menerapkan kebijakan parkir gratis di area minimarket seperti Indomaret dan Alfamart. Tujuannya jelas: menghapus retribusi yang tidak konsisten, praktik pungutan liar, dan situasi di mana orang tetap diminta membayar meskipun tidak berbelanja.

Di permukaan, ini terlihat seperti perbaikan yang masuk akal. Lebih sederhana, lebih bersih, lebih adil.

Tapi ada satu pertanyaan yang jarang benar-benar dijawab:

Jika kita menghapus biaya parkir, apa sebenarnya yang sedang kita ubah, dan apa yang sebenarnya kita tinggalkan?


Masalah lamanya memang nyata:

Sebelum kebijakan parkir gratis diberlakukan, tukang parkir di minimarket memang jadi sumber masalah yang cukup nyata. Tarifnya tidak konsisten dari satu toko ke toko lainnya, tanpa standar yang jelas. Ada pelanggan yang sudah telanjur parkir, tidak menemukan barang yang dicari, tapi tetap harus bayar. Sebagian besar juga beroperasi secara liar, tanpa payung hukum yang jelas.

Jadi ketika pemerintah daerah memutuskan untuk menghapus pungutan parkir, itu keputusan yang logis. Sumber konfliknya dihapus. Masalah selesai, setidaknya begitu yang kelihatan di permukaan.


Tapi ada yang ikut hilang:

Selama ini kita melihat tukang parkir hanya sebagai perantara transaksi. Tapi kalau dipikirin lebih dalam, mereka menjalankan fungsi koordinasi yang bekerja di ruang yang tidak sepenuhnya terstruktur:

  • Membantu mengatur lalu lintas keluar-masuk kendaraan, termasuk membantu pengendara menyebrang ke ruas jalan seberang dengan aman

  • Mengawasi area parkir secara langsung dan real-time, bukan sekadar lewat rekaman

  • Menjadi deterrence alami terhadap pencurian helm atau tindakan kriminal lainnya

  • Mengarahkan posisi parkir supaya area digunakan secara efisien

  • Mengatur kapasitas agar kendaraan tidak saling menghalangi satu sama lain

Ketika pungutannya dihapus, semua fungsi itu ikut pergi. CCTV bisa merekam kejadian, tapi tidak bisa membantu kamu menyebrang. Kamera bisa jadi barang bukti setelah helm raib, tapi tidak bisa mencegah itu terjadi sejak awal.

Ini penting untuk dicatat: fungsi tersebut tidak muncul karena desain sistem yang matang, tetapi karena ruangnya sendiri tidak pernah benar-benar dirancang untuk kompleksitas tersebut.

Dengan kata lain, ia adalah lapisan adaptif yang tumbuh untuk menutup celah desain.


Ketika biaya dihapus, yang hilang bukan hanya transaksi

Kebijakan parkir gratis memang menghapus layer paling terlihat: mekanisme retribusi.

Namun secara sistem, yang ikut terdampak adalah lapisan koordinasi informal yang selama ini menjembatani keterbatasan desain ruang dengan perilaku customer di lapangan.

Tanpa lapisan ini, sistem tidak menjadi lebih sederhana, ia menjadi lebih bergantung pada pengguna untuk menyelesaikan friksi secara mandiri.

CCTV tetap merekam, tetapi tidak mengintervensi. Sistem tetap mengamati, tetapi tidak lagi mengarahkan. Ruang yang sebelumnya “terkelola secara adaptif” kembali menjadi sepenuhnya self-managed.


Intinya bukan soal gratis atau berbayar

Pertanyaannya bukan apakah parkir harus gratis atau tidak.

Pertanyaannya lebih dalam:

Apakah kita sedang menghapus biaya, atau tanpa sadar menghapus fungsi koordinasi yang belum pernah kita desain ulang secara formal?

Karena jika fungsi itu tidak digantikan oleh desain ruang atau sistem yang jelas, maka yang terjadi bukan efisiensi, melainkan kekosongan operasional di level mikro interaksi.


Dari kacamata product design

Ini adalah pola yang cukup umum dalam system design:
kita menghapus satu visible layer of friction, tanpa memahami bahwa di bawahnya ada operational layer yang selama ini menjaga sistem tetap stabil.

Masalahnya bukan pada penghapusan itu sendiri, tetapi pada ketiadaan desain pengganti.


Maka solusinya bisa saja bukan mengembalikan tukang parkir

Tapi mengakui bahwa yang sebenarnya hilang bukan orangnya, melainkan fungsi koordinasi yang selama ini tidak pernah benar-benar didesain secara formal.

Dari sudut pandang system design, fungsi itu tidak bisa dibiarkan “muncul secara informal”. Ia harus sengaja dipetakan dan didistribusikan ulang ke dalam sistem yang lebih jelas.

Ada tiga layer yang perlu didesain ulang, bukan dihapus:

1. Spatial Design (mengurangi kebutuhan intervensi manusia)
Masalah terbesar parkir minimarket bukan biaya, tapi konflik ruang yang tidak terstruktur.

Artinya, solusi pertama harus selalu di level desain fisik:

  • memperjelas alur masuk dan keluar kendaraan

  • memisahkan zona pedestrian dan kendaraan

  • mengurangi titik konflik di area exit/entrance

  • membuat “decision point” lebih sedikit untuk user

Semakin baik spatial design, semakin kecil kebutuhan layer manusia.

2. Coordination Layer (mengganti fungsi yang hilang, bukan menghapusnya)
Kalau ruang tetap kompleks, maka tetap butuh layer koordinasi real-time.

Bedanya:
bukan lagi informal dan ambigu, tapi terdefinisi dan dibatasi fungsinya.

Contoh bentuknya seperti:

  • petugas dengan peran jelas: traffic guidance, bukan transaksi

  • SOP sederhana untuk guiding flow di jam ramai

  • penempatan posisi strategis (bukan random presence)

Intinya:
fungsi “mengatur chaos kecil” tidak boleh hilang, hanya boleh berubah bentuk menjadi sistem yang jelas.

3. Responsibility Model (siapa yang sebenarnya memegang kontrol)
Ini yang paling sering dilupakan.

Begitu layer informal dihapus, pertanyaan penting muncul:

kalau terjadi masalah di ruang ini, siapa yang bertanggung jawab?

Tanpa jawaban jelas, sistem akan default ke:

  • customer yang disalahkan

  • atau “tidak ada yang bertanggung jawab”

Padahal dalam sistem desain yang sehat, setiap edge case harus punya owner:

  • safety issue → siapa responnya

  • blockage → siapa intervensinya

  • incident → siapa eskalasinya

Kalau tidak, sistemnya bukan lebih bersih, tapi hanya lebih “kosong”.


Jadi problem sebenarnya bukan parkir gratisnya.

Tapi:

kita menghapus satu layer yang terlihat, tanpa pernah memetakan fungsi yang sebenarnya ia jalankan di dalam sistem.

Dan ini pola yang sering muncul dalam product thinking:

menghapus friction yang terlihat, tanpa memahami dependency yang tidak terlihat di bawahnya.

Hasilnya bukan simplifikasi. Tapi sistem yang tampak lebih bersih, sampai edge case pertama memaksa kita menyadari apa yang sebenarnya tidak pernah kita desain.

Ini bukan cuma soal parkir di minimarket. Ini soal bagaimana sebuah sistem yang kelihatannya sederhana ternyata punya banyak layer yang saling bergantung. Ketika kita menghapus satu bagian, kita tidak selalu tahu apa yang ikut pergi bersamanya, sampai kita merasakannya sendiri.

Validate Design & Prototype

In December 2023, I delivered a workshop for startups within the Bandung Techno Park ecosystem, sharing practical approaches to validating product ideas, prototypes, and design decisions. The session covered usability testing, qualitative and quantitative research methods, design critiques, and feedback frameworks that help teams make more informed product decisions and reduce risks before launch.

UI/UX Design with Principles & Patterns

In December 2023, I was invited to share practical UI/UX knowledge and design experience with startups under the Bandung Techno Park ecosystem. This workshop focused on helping participants understand design principles, usability fundamentals, and interface patterns that can be applied to build more effective and user-centered digital products. The session combined industry practices, design frameworks, and real-world examples to bridge the gap between theory and product development.

UI/UX Tool: Figma Fundamentals

Delivered a hands-on workshop for university students focused on introducing Figma as a core tool for UI/UX design. The session covered essential concepts including interface design workflows, components, auto layout, prototyping, and collaborative design practices. The goal was to help participants build a solid foundation in modern product design tools and gain practical skills that could be applied to academic projects and future industry work.

Business Model Innovation with Business Model Navigator

As part of a community engagement initiative led by the Faculty of Informatics, Telkom University, I joined the team responsible for developing workshop materials and supporting knowledge transfer activities for a company in Bandung. The session introduced the Business Model Navigator framework, a structured approach for analyzing, evaluating, and innovating business models. The goal was to help participants better understand their business ecosystem, identify growth opportunities, and explore innovation strategies that could strengthen long-term business sustainability.

Create a free website with Framer, the website builder loved by startups, designers and agencies.