Zahid Al Muhasibi

Digital Product Research & Design

LinkedIn

Dark Mode
Dark Mode

Zahid Al Muhasibi

Digital Product Research & Design

Dark Mode

Content

Parkir Gratis, Tapi Apa yang Sebenarnya Tidak Kita Perbaiki?

When a policy solves the surface, but leaves the system untouched.

Beberapa waktu terakhir, pemerintah daerah Pekanbaru mulai menerapkan kebijakan parkir gratis di area minimarket seperti Indomaret dan Alfamart. Tujuannya jelas: menghapus retribusi yang tidak konsisten, praktik pungutan liar, dan situasi di mana orang tetap diminta membayar meskipun tidak berbelanja.

Di permukaan, ini terlihat seperti perbaikan yang masuk akal. Lebih sederhana, lebih bersih, lebih adil.

Tapi ada satu pertanyaan yang jarang benar-benar dijawab:

Jika kita menghapus biaya parkir, apa sebenarnya yang sedang kita ubah, dan apa yang sebenarnya kita tinggalkan?


Masalah lamanya memang nyata:

Sebelum kebijakan parkir gratis diberlakukan, tukang parkir di minimarket memang jadi sumber masalah yang cukup nyata. Tarifnya tidak konsisten dari satu toko ke toko lainnya, tanpa standar yang jelas. Ada pelanggan yang sudah telanjur parkir, tidak menemukan barang yang dicari, tapi tetap harus bayar. Sebagian besar juga beroperasi secara liar, tanpa payung hukum yang jelas.

Jadi ketika pemerintah daerah memutuskan untuk menghapus pungutan parkir, itu keputusan yang logis. Sumber konfliknya dihapus. Masalah selesai, setidaknya begitu yang kelihatan di permukaan.


Tapi ada yang ikut hilang:

Selama ini kita melihat tukang parkir hanya sebagai perantara transaksi. Tapi kalau dipikirin lebih dalam, mereka menjalankan fungsi koordinasi yang bekerja di ruang yang tidak sepenuhnya terstruktur:

  • Membantu mengatur lalu lintas keluar-masuk kendaraan, termasuk membantu pengendara menyebrang ke ruas jalan seberang dengan aman

  • Mengawasi area parkir secara langsung dan real-time, bukan sekadar lewat rekaman

  • Menjadi deterrence alami terhadap pencurian helm atau tindakan kriminal lainnya

  • Mengarahkan posisi parkir supaya area digunakan secara efisien

  • Mengatur kapasitas agar kendaraan tidak saling menghalangi satu sama lain

Ketika pungutannya dihapus, semua fungsi itu ikut pergi. CCTV bisa merekam kejadian, tapi tidak bisa membantu kamu menyebrang. Kamera bisa jadi barang bukti setelah helm raib, tapi tidak bisa mencegah itu terjadi sejak awal.

Ini penting untuk dicatat: fungsi tersebut tidak muncul karena desain sistem yang matang, tetapi karena ruangnya sendiri tidak pernah benar-benar dirancang untuk kompleksitas tersebut.

Dengan kata lain, ia adalah lapisan adaptif yang tumbuh untuk menutup celah desain.


Ketika biaya dihapus, yang hilang bukan hanya transaksi

Kebijakan parkir gratis memang menghapus layer paling terlihat: mekanisme retribusi.

Namun secara sistem, yang ikut terdampak adalah lapisan koordinasi informal yang selama ini menjembatani keterbatasan desain ruang dengan perilaku customer di lapangan.

Tanpa lapisan ini, sistem tidak menjadi lebih sederhana, ia menjadi lebih bergantung pada pengguna untuk menyelesaikan friksi secara mandiri.

CCTV tetap merekam, tetapi tidak mengintervensi. Sistem tetap mengamati, tetapi tidak lagi mengarahkan. Ruang yang sebelumnya “terkelola secara adaptif” kembali menjadi sepenuhnya self-managed.


Intinya bukan soal gratis atau berbayar

Pertanyaannya bukan apakah parkir harus gratis atau tidak.

Pertanyaannya lebih dalam:

Apakah kita sedang menghapus biaya, atau tanpa sadar menghapus fungsi koordinasi yang belum pernah kita desain ulang secara formal?

Karena jika fungsi itu tidak digantikan oleh desain ruang atau sistem yang jelas, maka yang terjadi bukan efisiensi, melainkan kekosongan operasional di level mikro interaksi.


Dari kacamata product design

Ini adalah pola yang cukup umum dalam system design:
kita menghapus satu visible layer of friction, tanpa memahami bahwa di bawahnya ada operational layer yang selama ini menjaga sistem tetap stabil.

Masalahnya bukan pada penghapusan itu sendiri, tetapi pada ketiadaan desain pengganti.


Maka solusinya bisa saja bukan mengembalikan tukang parkir

Tapi mengakui bahwa yang sebenarnya hilang bukan orangnya, melainkan fungsi koordinasi yang selama ini tidak pernah benar-benar didesain secara formal.

Dari sudut pandang system design, fungsi itu tidak bisa dibiarkan “muncul secara informal”. Ia harus sengaja dipetakan dan didistribusikan ulang ke dalam sistem yang lebih jelas.

Ada tiga layer yang perlu didesain ulang, bukan dihapus:

1. Spatial Design (mengurangi kebutuhan intervensi manusia)
Masalah terbesar parkir minimarket bukan biaya, tapi konflik ruang yang tidak terstruktur.

Artinya, solusi pertama harus selalu di level desain fisik:

  • memperjelas alur masuk dan keluar kendaraan

  • memisahkan zona pedestrian dan kendaraan

  • mengurangi titik konflik di area exit/entrance

  • membuat “decision point” lebih sedikit untuk user

Semakin baik spatial design, semakin kecil kebutuhan layer manusia.

2. Coordination Layer (mengganti fungsi yang hilang, bukan menghapusnya)
Kalau ruang tetap kompleks, maka tetap butuh layer koordinasi real-time.

Bedanya:
bukan lagi informal dan ambigu, tapi terdefinisi dan dibatasi fungsinya.

Contoh bentuknya seperti:

  • petugas dengan peran jelas: traffic guidance, bukan transaksi

  • SOP sederhana untuk guiding flow di jam ramai

  • penempatan posisi strategis (bukan random presence)

Intinya:
fungsi “mengatur chaos kecil” tidak boleh hilang, hanya boleh berubah bentuk menjadi sistem yang jelas.

3. Responsibility Model (siapa yang sebenarnya memegang kontrol)
Ini yang paling sering dilupakan.

Begitu layer informal dihapus, pertanyaan penting muncul:

kalau terjadi masalah di ruang ini, siapa yang bertanggung jawab?

Tanpa jawaban jelas, sistem akan default ke:

  • customer yang disalahkan

  • atau “tidak ada yang bertanggung jawab”

Padahal dalam sistem desain yang sehat, setiap edge case harus punya owner:

  • safety issue → siapa responnya

  • blockage → siapa intervensinya

  • incident → siapa eskalasinya

Kalau tidak, sistemnya bukan lebih bersih, tapi hanya lebih “kosong”.


Jadi problem sebenarnya bukan parkir gratisnya.

Tapi:

kita menghapus satu layer yang terlihat, tanpa pernah memetakan fungsi yang sebenarnya ia jalankan di dalam sistem.

Dan ini pola yang sering muncul dalam product thinking:

menghapus friction yang terlihat, tanpa memahami dependency yang tidak terlihat di bawahnya.

Hasilnya bukan simplifikasi. Tapi sistem yang tampak lebih bersih, sampai edge case pertama memaksa kita menyadari apa yang sebenarnya tidak pernah kita desain.

Ini bukan cuma soal parkir di minimarket. Ini soal bagaimana sebuah sistem yang kelihatannya sederhana ternyata punya banyak layer yang saling bergantung. Ketika kita menghapus satu bagian, kita tidak selalu tahu apa yang ikut pergi bersamanya, sampai kita merasakannya sendiri.

Create a free website with Framer, the website builder loved by startups, designers and agencies.